JIKA ADA LINK YANG RUSAK ATAU MATI SILAHKAN TINGGALKAN COMMENT PADA LINK YANG DIMAKSUD. SETIAP SARAN DAN KRITIK AKAN KAMI TERIMA DENGAN SENANG HATI DAN MAAF BILA ADA PIHAK YANG MERASA DIRUGIKAN

14 Oktober 2009

Apakah Silicon Valley Itu?


Silicon Valley. Nama ini bagai mantra di abad teknologi informasi (TI) yang tengah kita jalani. Hampir semua nama-nama besar di dunia komputer berkantor di lembah yang berlokasi di daerah Santa Clara, California Utara, Amerika Serikat ini. Adobe Systems, AMD, Apple Corporation, Cisco, Hewlett Packard (hp), IBM Corporation, Intel, Netscape, Sun Microsystems, dan Symantec adalah beberapa diantaraya. Semua tersebar di kota-kota yag ada di Silicon Valley, Seperti Palo Alto, San Carlos, San Jose, Sunnyvale dan lainnya. Pantas saja bila hampir semua profesional TI mengarahkan pandangannya ke sana, menganggapnya sebagai kiblat. Maklumlah, karena fungsinya sebagai sebuah pusat bisnis TI dengan perputaran uangnya yang menarik. Survey of Buying Power yang pernah dilaksanakan oleh majalah Sales & Marketing Management menyebutkan, pendapatan per tahun 68 persen penduduk San Jose di tahun 2001 mencapai lebih dari US$ 50.000 (labih dari Rp 450 juta). Ini bukan angka yang kecil, lho? Begitu menariknya kota ini bagi para pencari kerja, hingga akhir 2001 lalu menurut survey di Santa Clara, tercatat ada kurang lebih 1,01 juta pekerja. Perusahaan TI dari penjuru dunia pun berlomba-lomba menaruh kantor perwakilannya di sana. Salah satu motivasinya tentu ingin kebagian aliran dana outsourcing.


Stanford Kesulitan Dana

Semua cerita itu tidak muncul begitu saja. Riwayat panjangnya bermula sejak akhir Perang Dunia II. Daerah Santa Clara sampai abad 20 lalu, wilayah penghasil perkebunan. Wilayah seluas 777KM2 ini terkenal dengan produksi buah apricot dan buah kenarinya. Layaknya semua negara bagian AS, Santa Clara pun memiliki universitas, yaitu Universitas Stanford dan Universitas California. Sekitar dekade 50-an, Universitas Stanford mengalami kekurangan dana untuk pengembangan kampus. Padahal kampus itu memiliki wilayah seluas 32KM2. Kemudian muncul pemikiran untuk menyewakan sebagian lahan itu sebagai kawasan industri teknologi. Harapannya bakal ada lingkungan yang kondusif untuk pengembangan keilmuan di universitas. Orang yang memulai inisiatif tersebut adalah Wallace Sterling, David Packard, dan Fred Terman. Stanford Industrial Park pun kemudian berdiri. Pihak universitas mulai menawarkannya secara terbatas pada perusahaan teknologi tertentu, yang sekiranya dapat memberikan keuntungan keilmuan bagi universitas. Perusahaan pertama yang menandatangani kontrak di areal itu adalah Varian Associates, tahun 1951. Dua tahun kemudian mereka jadi perusahaan pertama yang memindahkan usahanya ke sana. Perusahaan lain seperti Eastman Kodak, General Electric, Preformed Line Product, Admiral Corporation, Shockley Transistor of Beckman Instruments, Lockheed, Hewlett Packard dan lainnya muncul setelah itu. Selain menyediakan lahan, Universitas Stanford sendiri memanfaatkan situasi tersebut untuk perkembangan dari Stanford Research Institute yang telah berdiri sejak 1946. Hubungan erat Universitas Stanford dan industri teknologi pun kian erat. Dalam perkembangan selanjutnya, daerah ini pun mulai berevolusi mejadi pusat perkembangan teknologi di AS. Sampai saat ini, setidaknya sudah sekitar empat tahap perkembangan industri teknologi berlangsung di sana.


Dari Seorang Wartawan

Di awalnya, adalah kerja sama pengembangan teknologi militer yang berlangsung dari kurun waktu 50-an sampai akhir dekade 60. Kerja sama itu surut setelah pemerintah AS memotong anggaran militernya tahun 1969 - 1971. Sementara itu, industri Integrated Circuit (IC) mulai muncul di area itu sejak awal kurun 60-an. Dan selama satu dekade tersebut sudah ada 30 perusahaan semikonduktor berdiri di sana, termasuk Shockley, AMD, Intel, dan lainnya. Di era itu juga nama Silicon Valley muncul. Seorang wartawan tabloid mingguan Electroic News, Don C. Hoefler, menulis frase itu dalam serangkaian artikelnya mengenai kumpulan perusahaan elektronik di daerah Santa Clara, yang menurutnya merupakan sesuatu yang benar-benar khas. Jurnalis ini meninggal 15 April 1986 pada usia 63 tahun. Setelah Intel menemukan prosesor mikro tahun 1971, industri di Silicon Valley mulai serius mengembangkan teknologi personal computer (PC). Homebrew Computer Club, yang merupakan perkumpulan pehobi komputer di sana, melahirkan setidaknya 20 macam PC, termasuk komputer Apple. Jumlah perusahaan komputer di sana pun meningkat tajam. Jika pada tahun 1975 baru ada 880 perusahaan dengan 100.000 pekerjanya, maka pada tahun 1990 sudah ada 3.000 perusahaan komputer dengan 267.000 karyawannya di Silicon Valley. Era baru Silicon Valley muncul setelah munculnya internet secara komersial tahun 1993. Perusahaan yang berhubungan dengan internet pun bermunculan di sana, di antaranya Netscape, Cisco, dan 3Com. Jumlah pekerjaan di sana meningkat tajam selama booming internet. Walau begitu, daerah bukannya tak pernah mengalami kesulitan. Setidaknya ada empat kali masa resesi yang membuat gerak industri di Silicon Valley terganggu. Pertama, tahun 1970, saat perang Vietnam di mulai yang membuat aliran dana dari militer terganggu. Kemudian 1985, saat industri semikonduktor demikian menjamur sehingga menyebabkan over-capacity. Persaingan dengan industri semikonduktor di luar negeri pun mulai ketat. Tahun 1990, juga terjadi resesi ketika produksi PC begitu berlebih di pasar. Dan resesi yang mungkin menjadi terbaru bagi Silicon Valley adalah saat industri internet mulai ambruk di tahun 2000. Banyak perusahaan dotcom berguguran, dan harga sahamnya pun meluncur jatuh. Biar begitu, inovasi di Silicon Valley terus berjalan. Setidaknya ada tiga area pengembangan teknologi yang saat ini tengah menjadi perhatian serius di wilayah itu, yakni : pendalam teknologi informasi dan komunikasi, konvergensi bioteknologi dengan TI, serta komersialisasi teknologi nano dan micromachining. Dari kawasan yang dulu gemah ripah loh jinawi (tenteram, makmur, dengan tanah yang subur), kini bergeser menjasi gemah ripah teknologi.


Di Luar AS

Perkembangan Silicon Valley juga menginspirasi lahirnya beberapa pusat pengembangan TI di negara-negara lain. Di India, orang mengenal Bangalore yang sebagai Software Technology Parks of India. Lokasi di daerah utara India, tepatnya di provinsi Kamataka, itu menjadi pilihan berbagai kantor raksasa TI dunia sebagai perwakilannya di Asia. Microsoft, Intel, Hewlett Packard, Sun Microsistems dan Oracle ada di sana. Seperti halnya Silicon Valley, kota ke lima terbesar di India dengan penduduk enam juta orang ini menjadi kebanggan negeri Nehru dengan total ekspor software-nya yang tinggi. Total ekspor software India mencapai lebih dari US$ 8 miliar. Jumlah profesional TI di sana lebih dari 600.000 orang. Bill Gates pun menyebut daerah tersebut sebagai calon super power TI selanjutnya. Kalangan TI di Idonesia juga punya pemikiran yang mirip. Di Bandung misalnya, ada gagasan Bandung High Tech Valley. Budi Rahardjo, salah satu pakar komputer yang aktif dalam gagasan ini menilai Bandung mirip Silicon Valley, karena kota ini pun merupakan kota pendidikan teknologi. Walau belum jelas seberapa besarnya, software house di Bandung pun kabarnya sudah tumbuh.


0 komentar:

Posting Komentar